(Desa Demakan, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, 1 Agustus 2024)
Setiap rumah menghasilkan limbah rumah tangga yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat berdampak buruk bagi kondisi lingkungan dan mengganggu kenyamanan. Limbah rumah tangga merupakan buangan atau sampah yang berwujud padat atau cair yang berasal dari dapur, kamar mandi, atau hasil cucian.
Limbah rumah tangga digolongkan menjadi 2 kategori, yakni limbah organik dan limbah anorganik. Limbah organik merupakan limbah yang berasal dari makhluk hidup seperti sisa makanan, sampah kulit buah-buahan, sayur-sayuran, dan sebagainya yang memiliki unsur karbon. Sedangkan, limbah anorganik adalah limbah yang tidak memiliki unsur karbon seperti plastik, kaca, kaleng, dan sebagainya. Limbah organik lebih mudah diuraikan oleh mikroorganisme dibandingkan limbah anorganik karena limbah anorganik memiliki unsur karbon yang memiliki rantai kimia yang kompleks dan juga panjang. Itulah sebabnya, limbah organik sering terlihat membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Untuk mengatasi hal tersebut, Mahasiswa KKM TIM II Universitas Diponegoro melakukan inovasi pemanfaatan eco enzyme dari limbah rumah tangga organik menjadi bahan dasar pembuatan deterjen cair ramah lingkungan. Kegiatan ini disampaikan oleh Viranty Azzahra, mahasiswa program studi Kimia pada hari Kamis (01/08/2024) di rumah Ibu Sutarti yang dihadiri oleh 30 orang Ibu-Ibu PKK RT 03 RW 03 Dusun Pancuran Desa Demakan.
Kegiatan ini diawali dengan pembagian poster pembuatan deterjen cair ramah lingkungan berbasis eco enzyme dan edukasi mengenai bahaya dan kandungan senyawa deterjen kimia, manfaat dan keunggulan deterjen alami, serta perbandingan antara deterjen kimia dengan deterjen alami. Terakhir, dilakukan pembagian deterjen cair kepada ibu-ibu PKK RT 3 RW 3 Dusun Pancuran Desa Demakan.
Pembuatan deterjen dari eco enzyme ini cukup mudah dengan menggunakan bahan-bahan yang sedikit, yakni 500 mL eco enzyme,, 500 mL air, 150 g serbuk metil ester sulfonate (MES), 20 g garam kristal, dan essential oil. Mulanya, serbuk MES sebagai pemberi busa dilarutkan dengan air sambil dipanaskan hingga rata tidak terbentuk gumpalan. Lalu diberi penambahan garam krosok yang mengatur viskositas larutan menjadi kental sambil diaduk. Kemudian, diberi penambahan eco enzyme sebagai zat aktif diaduk hingga rata. Terakhir, tambahkan essential oil secukupnya hingga tercium aroma wangi. Jika sudah, tunggu hingga larutan dingin dan deterjen siap ditempatkan di wadah botol untuk digunakan.
Kelebihan deterjen dari eco enzyme ini adalah bahannya ramah lingkungan dan bersifat biodegradable (mudah terurai) sehingga tidak mencemari lingkungan dan aman digunakan. Selain itu, serbuk MES sendiri merupakan surfaktan anionik yang sering digunakan dalam produk pembersih seperti deterjen dan sabun yang terbuat dari minyak nabati seperti minyak kelapa melalui proses esterifikasi dan sulfonasi. Deterjen ini menghasilkan busa yang sedikit sehingga residu yang tertinggal tidak banyak dan tidak mencemari air atau tanah. Meskipun hasil busa sedikit, namun deterjen ini efektif memberishkan kotoran terutama minyak dan lemak karena kandungannya yang terbuat dari bahan-bahan organik.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat terutama bagi kami ibu rumah tangga sehingga kami dapat mengelola limbah rumah tangga khususnya limbah organik dengan baik dan dapat kami manfaatkan sebagai deterjen cair” Ujar Bu Marsinah selaku salah satu peserta kegiatan sosialisasi di RT 03 RW 03 Dusun Pancuran Desa Demakan. Dengan adanya edukasi dan pelatihan pembuatan produk deterjen cari dari eco enzyme tersebut, diharapkan masyarakat Desa Demakan dapat memanfaatkan limbah rumah tangga khususnya limbah organik dengan baik dan dapat dijadikan ide UMKM baru untuk perekonomian di Desa Demakan.
